KABUL, KOMPAS.com – Seorang wanita hamil yang dievakuasi dari Afghanistan melahirkan dalam penerbangan evakuasi.
Laporan tersebut disampaikan Komando Mobilitas Udara AS melalui Twitter pada Minggu (22/8/2021).
Melansir BBC, wanita tersebut hendak melahirkan dalam penerbangan ke Pangkalan Udara Ramstein di Jerman.
Baca juga: Taktik Perang Mao Zedong Disebut Jadi Inspirasi Taliban Menguasai Afghanistan
Selama penerbangan, sang ibu tiba-tiba hendak melahirkan dan mulai mengalami komplikasi.
Komandan pesawat memutuskan untuk menurunkan ketinggian pesawat guna meningkatkan tekanan udara di dalam pesawat.
Medical support personnel from the 86th Medical Group help an Afghan mother and family off a U.S. Air Force C-17, call sign Reach 828, moments after she delivered a child aboard the aircraft upon landing at Ramstein Air Base, Germany, Aug. 21. (cont..)
— Air Mobility Command (@AirMobilityCmd)
Setelah tekanan udara meningkat, kondisi sang ibu dikabarkan mulai stabil kembali.
Akhirnya, pesawat mendarat di pangkalan tujuan dan personel medis segera naik ke pesawat. Personel medis ini lantas membantu persalinan di ruang kargo pesawat.
Setelah itu, ibu dan bayinya dibawa ke klinik kesehatan terdekat dan dilaporkan dalam keadaan yang baik.
Baca juga: Kelompok Gerilyawan Afghanistan Siap Perang Jangka Panjang dengan Taliban, tapi...
Sementara itu, ribuan warga Afghanistan berada di luar bandara Kabul, Afghanistan selama beberapa hari setelah Taliban menguasai kota itu.
Mereka menunggu di bawah terik matahari sambil berdesakan untuk mengambil kesempatan melarikan diri dari negara itu.
Saat ini, pasukan AS-lah yang mengendalikan bandara tersebut.
Pada Sabtu (21/8/2021), Gedung Putih menyatakan bahwa sejauh ini sekitar 17.000 orang telah diterbangkan dari bandara itu oleh militer AS.
Di sisi lain, Presiden AS Joe Biden menetapkan 31 Agustus sebagai tenggat waktu untuk penarikan semua pasukan AS dari negara itu.
Baca juga: Putin dan Erdogan Bahas Situasi Afghanistan, Sepakat Perkuat Koordinasi
Namun, beberapa negara sedang mengupayakan perpanjangan tenggat waktu untuk membantu mengevakuasi warga mereka dan warga Afghanistan yang bekerja untuk mereka.
"Mereka ingin mengevakuasi 60.000 orang mulai saat ini hingga akhir bulan," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell kepada AFP, Sabtu.
"Secara matematis tidak mungkin,” ujarnya.
Sementara itu, Taliban menyalahkan AS atas kekacauan yang terjadi di bandara Kabul.
"Amerika, dengan segala kekuatan dan fasilitasnya, telah gagal menertibkan bandara," kata pejabat Taliban Amir Khan Mutaqi.
Baca juga: Kisah Hidup Wanita Afghanistan di Bawah Pemerintahan Taliban pada 1999
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita 优游国际.com WhatsApp Channel : . Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.