Oleh: Dr. Naomi Soetikno, M.Pd., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara) | Dr. Rismiyati E. Koesma, Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara) | Hanna Christina Uranus, S.Psi. (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)
KOMPAS.com - Kondisi pandemi menyebabkan berbagai perubahan pada berbagai sektor, mulai dari kebijakan pada tempat publik, pekerjaan, ibadah, dan termasuk kegiatan belajar-mengajar.
Sekolah dan perguruan tinggi diwajibkan untuk menjaga protokol kesehatan dengan menerapkan pembatasan pertemuan tatap muka luring (offline), di mana proses perkuliahan juga banyak dilakukan secara daring (online).
Proses belajar-mengajar secara daring (online) memiliki perbedaan dengan pembelajaran yang sebelumnya dilakukan secara luring (offline). Kini, mahasiswa perlu mengerjakan tugas, ujian dan mempelajari materi melalui layar gawai.
Mahasiswa tidak dapat bertemu langsung untuk berdiskusi dengan rekan-rekan maupun dosen. Tidak tertutup pula kemungkinan terjadinya kendala teknis pada gawai maupun internet selama proses belajar.
Dapat dikatakan, metode pembelajaran berubah secara drastis, namun mahasiswa tetap dituntut untuk memenuhi kompetensi pembelajaran dengan standar yang sama dengan saat pembelajaran luring (offline).
Hal tersebut dapat dipersepsikan sebagai tantangan oleh mahasiswa, dan dapat menimbulkan berbagai perasaan negatif seperti kecemasan, perasaan tidak berdaya, ataupun stres.
Apabila dianalogikan, bola bekel yang dibanting dengan keras ke lantai mampu naik kembali dengan posisi lebih tinggi dari posisi awal.
Untuk mampu belajar dengan baik dan efektif, maka mahasiswa memerlukan kemampuan untuk ‘melenting’ atau bangkit kembali dengan lebih tangguh saat menghadapi situasi yang tidak nyaman.
Adapun hal tersebut dapat dijelaskan melalui konsep psikologis yang dikenal dengan resiliensi.
Baca juga:
Menurut Connor dan Davidson (2003), resiliensi adalah kualitas seseorang untuk berkembang walaupun menghadapi tekanan.
Seseorang yang resilien adalah seseorang yang mampu mempertahankan, bahkan memulihkan fungsi psikologis secara stabil terlepas dari permasalahan yang dihadapi.
Resiliensi dibentuk oleh berbagai faktor yang bersifat protektif atau melindungi kondisi mental seseorang, seperti lingkungan sosial yang suportif, pemahaman akan strategi penyelesaian masalah, maupun kemampuan dalam mengendalikan emosi.
Seseorang yang resilien adalah mereka yang memiliki serta mengembangkan berbagai kualitas diri.
Connor dan Davidson (2003) menyatakan bahwa aspek yang membentuk konsep resiliensi terdiri dari kompetensi pribadi, toleransi terhadap efek buruk, penerimaan terhadap perubahan, persepsi terhadap kontrol, serta kepercayaan spiritual.